Thursday, November 29, 2012

tentang ilmu dan ulama

Ini pertama kalinya saya nulis notes di fb,ringan saja, mudah2an bermanfaat bagi siapa yang membaca..
cuma ingin menuliskan cerita menarik (menurut saya) yang saya dengar tadi siang..

Profesor kami, Prof Khalid Idris menceritakan pada kami di sela- sela kuliahnya tentang Ulumul Hadits, kebetulan beliau salah seorang pakar Hadits terkemuka di kampus..cerita tentang pengalaman beliau semasa kuliah di kampus yg sama dengan kami..

Saat itu beliau diajar oleh salah seorang Ulama Hadits terkemuka dunia abad 20, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, seorang Muhaddits besar asal Syiria, (mungkin anda ada yang mengenalnya,bagi yang belum kenal silakan kenalan lewat google :)  ),beliau sudah meninggal Allahu Yarham..

Saat itu Syaikh Abdul Fattah mengajar Metodologi Takhrij Hadits, caranya cukup unik dan menarik, setiap kali datang ke kelas beliau selalu datang dengan diriingi anaknya yang membawa satu kardus besar berisi kitab2 hadits, tentu saja zaman itu belum ada Maktabah Syamilah, Syekh Google, dsb.. :)

Cara beliau memperkenalkan kitab2 hadits cukup unik, berikut diantara percakapannya (yg singkat):

Syaikh Abdul Fattah (SAB) (waktu itu sudah sangat tua): "Yaa Ibnii (Nak, kurang lebih gitu kali yaa :), kamu tahu ini kitab apa? (sambil mendatangi salah satu mahasiswa di mejanya dan ditangan beliau ada kitab Majma'uz Zawaid)

Mahasiswa (M): ya, syekh, itu kitab Majma'uz Zawaid (secara kelihatan judulnya gitu...)

SAB: "oh,kamu sudah tahu?coba kamu pegang ini, nak, (menyerahkan kitab itu kpd mahasiswa), lihat baik2, buka dalamnya, lihat isinya..." (intinya disuruh ngenalin baik2 tuh buku..:)

M:............

begitulah cara beliau memperkenalkan dan mendekatkan ilmu dan buku2nya,kepada mahasiswa, mendatangi satu persatu mahasiswanya, manggil "nak", nyuruh megang/nyentuh kitab yg beliau bawa..sepanjang kuliah berlangsung pun mahasiswa selalu asyik dengan penjelasannya.

Apa kata beliau waktu bel jam kuliah habis berbunyi?:

"Bel ini membunuh kita.." :)

ya, bel ini membunuh kita, membunuh keasyikan kita dengan ilmu dan ulama, memutus rantai yg menghubungkan kita dengan Manusia Terbaik, Shallallahu 'alaihi wa Sallam..

kami (mahasiswa) saat mendengar cerita ini dari Prof Khalid pun tertawa (karena istilah membunuh yg dipakai Syaikh), sekaligus terdorong untuk introspeksi, bahwa sungguh terjadi degradasi motivasi, kemerosotan dorongan untuk mencinta ilmu pengetahuan, mulai lupa akan "emas" dan "perak" peradaban Islam di masa awalnya, tak lagi biasa dengan tradisi ilmiah, atau menyempitkan makna "ilmiah" menjadi semata-mata apa yang bisa diterima logika (baca:hawa nafsu), orang pun tak lagi merasa bodoh, namun merasa pintar, belajar Islam sebentar-bentar berani komentar sana-sini, baca satu dua ayat satu dua hadits ambil kesimpulan gubyah uyah, tak lagi ada paradigma "oh, siapa tahu saya salah" , tak ada lagi konsepsi "ketidaktahuan kita tentang sesuatu bukan berarti ketiadaan sesuatu itu", tak ada lagi pemikiran "semakin aku tahu, semakin aku bodoh"..

para pendidik (atau semata2 pengajar?) pun tak lagi datang ke meja2 kecuali untuk pasang wajah angker, mergoki anak didiknya, tak lagi ada sekedar sapaan "apa kabar?", atau bahkan, "nak"..cukup sudah baginya mengisi waktu kelas dengan memberi tugas, sambil mata terkantuk2 menunggu bel waktu jam pelajaran habis..

Fa'tabiruu yaa Ulil Abshaar...
sekedar coretan iseng di malam hari jelang tidur..

Riyadh, 18 Dzul Qa'dah 1432

1 comment:

  1. sungguh beruntung seseorang yang bisa belajar dari Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. bayak hal yang bisa dipelajari darinya..

    ReplyDelete