Monday, March 4, 2013

Tentang Cita, Cinta dan Rasa

Rangkaian perasaan yang menjadi pelembut setiap jiwa pemilik ruh dan nafas. Rangkaian perasaan yang menghangatkan, menyirami, meng-energi, mendorong dan menumbuhkan.

Cinta, Jatuh Hati. Rasa yang tak pernah bisa di-logika-kan; kenapa.  Rasa yang tak pernah bisa di buat pertanyaan; satu tambah satu sama dengan dua. Rasa yang mencerminkan ria, gembira dan suka.

Cinta, Jatuh Hati. Rasa yang mungkin pula berakhir duka dan lara. Ia menyebabkan orang tertambat hatinya, tertatih langkahnya, tertawan fikirannya.  Makan tak lagi sedap, minum tak menghilangkan dahaga

Cinta dan Jatuh Hati. Selalu ada kosakata yang tak pernah punah untuk mengungkapkannya, atau bisa jadi esensinya lebih besar tak tertampung oleh kata-kata, atau adakah lidah kita yang terlalu kelu untuk membahasakannya?


Cinta dan Jatuh Hati. Ibn Al-Qayyim –seorang ‘alim dan pujangga cinta- berusaha keras menerjemahkan satu rasa ini dalam berbagai derivasinya, ia bertutur; Mahabbah (cinta) –boleh jadi- bermakna shafa’ (jernih putih), atau mendidihnya hati tatkala menguat rasa pada objek yang dicinta, atau terpautnya jiwa pada sesuatu yang disuka, atau inti dan benih dari sesuatu yang menumbuhkan dan tak menampung selain objek yang tumbuh di atasnya.

Manakah yang benar. Bagiku, boleh jadi semuanya benar, ia menampung segala kemungkinan makna. Karenanya setiap pecinta –menurutku- semestinya mengukur kesejatian rasa dengan segala kemungkinan makna tersebut.

Bagaimana insan menyikapi cinta dan jatuh hati?

Ada orang yang menerjemahkan cinta sebagai ekspresi perut  (baca: materi) dan bawah perutnya. Ada orang yang mengalami “klik” dan “setrum” tersebab oleh fisik dan rupa. Kemudian ia tergila-gila padanya, termotivasi untuk memilikinya dengan segala cara, tak perlu akal sehat dan logika. Seketika keinginannya terpuaskan, apakah cinta ini kan kekal dan nyata? Tak perlulah kau bertanya apa jawabannya.

Ada pula orang yang mencinta karena obsesi dan cita. Obsesi dan cita akan misi yang diyakini dan diimani jiwanya. Tatkala ia tertawan oleh cinta, ia menjadikannya energi tak berbatas, dorongan tak terputus, serta bahan bakar yang selalu terbarukan. Orang seperti ini mencari pelabuhan rasa cintanya pada sosok atau sesuatu yang menampung obsesi dan citanya, menjadikan standar ukuran klik dan setrum pada cita yang diyakininya.

Adakah kemungkinan persenyawaan antara setrum dan cita? Bukankah setrum itu tak pernah bisa di-logika? Jarang pernah kita temukan jawaban memuaskan atas pertanyaan; kenapa kau jatuh hati padanya? Jawaban yang paling muncul adalah; karena aku mencintainya, tanpa alasan, tanpa sebab yang masuk akal bagi orang selain dia. Tatkala kau menemukan orang mengemukakan alasan yang nampak masuk logika, sadarilah bisa jadi dia mungkin hanya mencari legalitas akan rasa yang membuncah dalam dadanya.

Akhirnya, kutemukan konklusi yang boleh jadi awal dan dangkal. Cinta yang kau tertawan olehnya, nyatanya adalah ekspresi dalam alam realitas akan apa yang selama ini tertanam dan terbentuk dalam jiwanya. Semakin tinggi kualitas jiwa, semakin tinggi pula kualitas cintanya, kualitas objek yang dicintainya, serta kualitas cara mencintainya. Sebaliknya, semakin kerdil jiwanya, semakin kerdil pula kualitas cintanya, kualitas objek yang dicintainya, serta kualitas cara mencintainya. Karenanya, setrum dan klik –sebagaimana orang awam sepertiku membahasakannya- menurutku, adalah ekspresi jiwa spontan yang nampak dari apa yang sudah terbentuk dari kualitas jiwa pemiliknya.

Karena kualitas cinta berbanding lurus dengan kualitas jiwa. Tatkala kau ingin cintamu berkualitas, tingkatkan kualitas jiwamu. Perluas kebesaran jiwa dan dadamu. Pertajam cita dan obsesimu, buatlah abjadiyat nyata dari obsesi dan citamu, agar kau tahu bahwa cinta hakikatnya adalah kata kerja –sebagaimana tutur para pujangga-.


Percayalah, karena tak setiap pencinta mesti seperti Qais dan Laila, tatkala kau inginkan ia kekal dalam dada, kau mesti lekatkan jiwamu pada obsesi dan cita yang kau yakini, ketika kau alami goyah, saat itulah rasa itu berubah atau malah jadi punah..

Riyadh, 040313

6 comments:

  1. Manusia membutuhkan tenaga yang dapat menjadi penggerak utama dari dinamika hidupnya. Tidak ada yang lebih dasyat yang lebih memberikan suntikan kekuatan, yang bisa melebihi kekuatan cinta. Cinta dalam diri manuasia bekerja dengan mekanisme yang unik..:)

    ReplyDelete
  2. mantap dek faris... sangat menggugah,, boleh sbg rekomendasi bahan bacaan terutama utk insan2 muda yg mungkin lagi galau berkepanjangan... sgt bermanfaat :)

    ReplyDelete
  3. Salam kenal kak Faris. Tulisan2nya bagus Kak.

    ReplyDelete
  4. Sangat bermanfaat tulisannya. Barakallah..
    Izin share ya kak..
    Terima kasih. :)

    ReplyDelete