Monday, April 7, 2008

Tentang seorang syaikh....(bag1)

         Wajahnya sudah terlihat letih karena gurat-gurat ketuaan, tapi masih tampak gagah dengan jubah dan peci putihnya, janggutnya yang sudah memutih menutupi pipi dan dagunya meski tidak terlalu lebat.
          Beliau mulai mengajar di kampus kami sejak kurang lebih setahun yang lalu, sebagai dosen utusan dari kampus induk nun jauh disana, Univ. Imam Muhammad bin Saud Riyadh. awal-awal kedatangannya, beliau tidak masuk di kelas saya. tapi dari yang saya dengar, ketika beliau mengajar di kelas-kelas lain, beliau dikenal tidak pernah tersenyum, kata-katanya tegas dan keras, tidak pernah kompromi terhadap siapa saja yang terlambat masuk kelas.
          Sejak semester 5,mulai saat itulah saya merasakan langsung bagaimana beliau mengajar. beliau memegang mata kuliah Ushul Fiqh, mata kuliah yang terkenal paling sulit dan njlimet,karena penuh dengan perdebatan manthiq dan filsafat, sebelumnya mata kuliah tersebut dipegang oleh DR. Muinudinillah, pakar Ushul Fiqh asal Solo, yang sudah pulang ke kampung halamannya karena kesibukan da'wah disana. Awal beliau mengajar,terasa sekali perbedaan mencolok dibandingkan diajar oleh Dosen sebelumnya, bayangkan saja, dikelas Syaikh ini tidak pernah tersenyum, suaranya lantang, hingga terdengar oleh seluruh kelas yang berjumlah 80 orang, siapa saja yang masuk setelah beliau masuk, langsung beliau berkata, "Ukhruj...!!! Aghliq al baab hatta laa yadkhula ahad!!" (Silakan keluar!! kunci pintunya agar tidak ada seorang pun yang masuk". suasana di kelas pun tegang, mahasiswa yang beberapa kali tidak masuk mata kuliahnya langsung dapat teguran keras.
          Kami para mahasiswa harus beradaptasi dengan cepat dengan gaya mengajar beliau, berbeda dengan dosen sebelumnya yang orang jawa tulen yang notabene sangat ramah dan penuh joke,meski njlimetnya matakuliah tetap tidak bisa terurai olehnya. nah, Syaikh baru ini begitu banyak "kejutan" mulai dari ketegasan dan "kegalakannya" sampai beberapa kawan bilang, ini dia dosen "killer" di syariah Lipia, hingga keteraturan dalam memaparkan penjelasan.
          Sungguh, kedatangan beliau langsung mengubah persepsi kami tentang mata kuliah Ushul Fiqh, meski sangat tegas, tapi beliau sangat teratur dan terstruktur dalam menjelaskan logika-logika ilmiah, istidlal dan istinbath dalam Ushul fiqh. suatu hal yang tidak kami temukan  dari gaya mengajar dosen sebelumnya. beliau tidak pernah menyuruh suatu hal tentang kebaikan dan thalabul ilmi kecuali itulah hasil pengalaman dan pengamalannya bersama kehidupan dan keilmuan. beliau juga dikenal piawai dalam berbagai disiplin ilmu (syar'i) yang lain,sampai-sampai dosen lain yang lebih muda mengatakan "Huwa mutakhassish fii kulli syai'" (beliau itu spesialis dalam semua bidang ilmu).
          Kami para mahasiswa pun akhirnya pun bisa menikmati gaya mengajar beliau, sambil berusaha istifadah sebanyak-banyaknya dari kedalaman ilmu yang beliau miliki, hingga beliau akhirnya sedikit banyak disela-sela mengajar mencandai para mahasiswanya,meski beliau sendiri tidak tertawa,tapi kami terbahak-bahak.
          Kami banyak belajar dari beliau tentang ketegasan dan antitoleransi terhadap sesuatu yang bertentangan dengan Diin, kami juga belajar bagaimana kami seharusnya bersikap terhadap warisan karya-karya besar para Ulama' yang mulia. Kami ucapkan jazakallahu khairan yaa syaikh, waja'ala amalakum fi mizani hasanatikum, kami tidak tahu harus membalas dengan apa kecuali hanya dengan berusaha mengamalkan ilmu yang anda sampaikan, mungkin anda tidak mengenal saya, tapi saya sangat mengenal anda, seorang syaikh yang mulai menginjak usia 60 tahun, sebagai guru,bapak dan pendidik bagi kami.
          Terima kasih, yaa syaikhana alhabib... Prof Dr Muhammad Ad Duwaisy...
         

1 comment:

  1. saya jadi murid dari muridnya syaikh aja deh.. :)

    ReplyDelete