Wednesday, February 27, 2013

Aksiomatika Perlawanan*


Prof Dr Imaduddin Khalil [1]
Translated by: Faris Jihady, Lc

Manusia kadangkala dalam beberapa situasi yang paradoks, terpaksa untuk membicarakan perkara aksiomatis.

Amerika Serikat sebagai sebuah negara takkan pernah berdiri kalau bukan karena perlawanan rakyatnya terhadap penjajahan Inggris. Negara-negara Amerika Latin takkan terbentuk kalau bukan karena perlawanan bangsa mereka terhadap penjajahan Spanyol-Portugis. Bahkan Vietnam takkan pernah merdeka kalau bukan perlawanan terhadap Amerika dan penolakan untuk menyerah.

Sesungguhnya perlawanan rakyat merupakan hak legal yang dibenarkan di setiap masa dan tempat. Ia juga merupakan hal yang disepakati dan konsensus secara aksiomatis. Tiap kali ada penjajahan terhadap negeri tertentu, di sana pasti ada usaha tak terputus untuk melawan penjajahan tersebut. Ini merupakan perkara final baik dalam konteks agama dan sipil, sudah pula menjadi tradisi internasional dan aksiomatika politik.

Sementara itu, berdasarkan banyak variabel dan peristiwa beberapa puluh tahun terakhir; mulai dari Tatanan Dunia Baru (New World Order), Perang terhadap Terorisme (War on Terror), dan teoritisasi yang mendukungnya, seperti; tesis Fukuyama (The End of History/Akhir Sejarah), Huntington (Benturan Peradaban/Clash of Civilization), nampak bahwa Kamus Konsensus Aksiomatis tadi hendak dimusnahkan, diubah, atau diganti dengan Kamus baru yang tak memiliki dasar historis atau tradisi internasional yang sudah disepakati berabad-abad yang lampau.

Thursday, November 29, 2012

tentang ilmu dan ulama

Ini pertama kalinya saya nulis notes di fb,ringan saja, mudah2an bermanfaat bagi siapa yang membaca..
cuma ingin menuliskan cerita menarik (menurut saya) yang saya dengar tadi siang..

Profesor kami, Prof Khalid Idris menceritakan pada kami di sela- sela kuliahnya tentang Ulumul Hadits, kebetulan beliau salah seorang pakar Hadits terkemuka di kampus..cerita tentang pengalaman beliau semasa kuliah di kampus yg sama dengan kami..

Saat itu beliau diajar oleh salah seorang Ulama Hadits terkemuka dunia abad 20, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, seorang Muhaddits besar asal Syiria, (mungkin anda ada yang mengenalnya,bagi yang belum kenal silakan kenalan lewat google :)  ),beliau sudah meninggal Allahu Yarham..

Saat itu Syaikh Abdul Fattah mengajar Metodologi Takhrij Hadits, caranya cukup unik dan menarik, setiap kali datang ke kelas beliau selalu datang dengan diriingi anaknya yang membawa satu kardus besar berisi kitab2 hadits, tentu saja zaman itu belum ada Maktabah Syamilah, Syekh Google, dsb.. :)

Sunday, October 21, 2012

Pertemuan Dua Tokoh Besar

Coba anda bayangkan seandainya hari ini terjadi pertemuan antara dua tokoh besar dari kalangan pemikir Arab..atau dua tokoh politik terkenal di seantero Dunia Arab…

Atau -supaya lebih fleksibel- seandainya saja tokoh pertemuan itu adalah dua tokoh terpenting di Dunia Islam..
Menurut prediksi dan perkiraan anda, kira2 tema apa yang akan menjadi menu utama pertemuan tersebut??

Apakah anda mengira, tema pembicaraan akan berupa, misalnya: seputar kebebasan, kebangkitan, peradaban, atau pembangunan? atau seputar pengangguran dan perumahan? ataukah seputar perkembangan media atau krisis ekonomi??

Atau apa menurut anda?

Saturday, June 9, 2012

Tentang Obsesi 2

secuil inspirasi dari kisah Yusuf 'alaihissalam
 
ِإلى كُل أَحلَامِنَا وأُمنِيَّاتِنَا المُتَأَخِّرَة
Untuk Setiap Obsesi yang Tertunda
 
 
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sungguh dlm kisah mereka ada pelajaran bagi orang2 berakal. Al Quran bukanlah perkataan yang diada2kan, namun sbagai pembenar terhadap kitab2 sebelumnya, penjelas segala sesuatu, petunjuk dan kasih sayang bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf:111)
 
Betapa banyak impian dan angan yang tertunda karena ada hikmah yang tampak kemudian. 
Betapa banyak karunia yang tiba, dalam kemasan cobaan dan derita.
 
Ketenangan Yusuf 'alaihissalam menjadi sebab terlempar di kedalaman sumur
Ketampanan dan kesempurnaan fisiknya penyebab terfitnahnya kaum wanita dan karenanya pula ia dipenjara.
Lamanya ia mendekam di balik jeruji, menjadi penyebab tamkin (kekuasaan dan kepemimpinan) di kemudian hari
 
Meski dua orang kawannya sesama di penjara, lebih rendah kedudukan dan derajatnya, mereka keluar terlebih dulu sebelum Yusuf.
Orang Pertama keluar untuk menemui kematiannya.
Orang Kedua keluar untuk melayani tuannya.
Sedang NabiyuLLah ini ketakbersalahannya sangat jelas, bahkan lebih jelas dari matahari di siang terik.
Namun Sang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui berkehendak agar ia tinggal di penjara lebih lama beberapa tahun
 
 
Impiannya (untuk bebas) pun tertunda
Angannya semakin jauh
 
Cengkeraman belenggu semakin melelahkannya
Jiwanya semakin merindu pada kebebasan
 
Penantiannya begitu lama..sangat lama..
Hingga ia keluar setelah lulus dari ujian, siap menerima kekuasaan
Berkuasa di atas muka bumi, bergerak sesuai kehendak.
Namun tetap tersungkur di pangkuan kedua orangtuanya demi memuaskan dahaga akan kasih mereka, dahaga karena terpisah waktu dan jarak yang nyaris saja membekukan peluhnya.
 
Kepada setiap impian, cita, dan obsesi kita yang tertunda. Inilah Optimisme Yusuf..!!!
 
Apa yang terjadi pada Yusuf akan terus berulang, namun tidak pada setiap orang
Ia hanya terjadi khusus pada 'Uzhama' (Orang2 Besar) saja.
 
Jika seseorang yang lebih 'kecil' darimu, mendahuluimu merealisasikan obsesinya & memecahkan penderitaannya..
Percayalah dengan sepenuh kepercayaan (tsiqah) bahwa Pemilik Takdir sedang menyimpan bagimu apa yang telah DIA kehendaki.
Yakinlah bahwa Sang Maha Penyayang tak pernah melupakan hamba2Nya yang penyabar, tak pula menyia2kan balasan para pemilik kebajikan..
 
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
"Maka barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya".
 
NB: terjemah bebas dari artikel yg ditulis oleh Ustadzah Abrar bint Fahd "Ilaa kulli Ahlaamina wa Umniyyatina al Muta'akkhirah.."  
http://www.tafkeeer.com/play.php?catsmktba=190#.T9IPPomtifo.facebook


Thursday, December 29, 2011

Tentang Obsesi

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Secuil inspirasi dari Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid:

 

 

أعلى الهمم فى طلب العلم، طلب علم الكتاب والسنة والفهم عن الله ورسوله نفس المراد، وعلم حدود المنزل. وأخس همم طلاب العلم قصر همته على تتبع شواذ المسائل وما لم ينزل ولا هو واقع أو كانت همته معرفة الاختلاف وتتبع أقوال الناس وليس له همة الى معرفة الصحيح من تلك الأقوال وقل أن ينتفع واحد من هؤلاء بعلمه. وأعلى الهمم فى باب الارادة أن تكون الهمة متعلقة بمحبة الله والوقوف مع مراده الدينى الأمرى, وأسفلها أن تكون الهمة واقفة مع مراد صاحبها من الله فهو انما يعبده لمراده منه لا لمراد الله منه فالاول يريد الله ويريد مراده والثاني يريد من الله وهو فارغ عن إرادته

 

Obsesi tertinggi dalam mencari ilmu, adalah:

-         Mendalami ilmu alqur’an dan sunnah,

-         Memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan maksudnya, serta

-         Memahami batasan2 yang sudah diturunkan (wahyu)


Sedangkan serendah-rendah obsesi pencari ilmu adalah membatasi obsesinya, semata-mata:

-         mencari-cari persoalan yang syadz/anomaly (menyimpang dari keumuman)

-         Membahas hal2 yang belum terjadi, dan tidak terjadi

-         Mencari tahu ikhtilaf/perbedaan pendapat, meneliti satu-satu pendapat orang, tanpa berusaha mencari tahu pendapat yang benar, dan dipastikan sedikit orang yang akan mengambil ilmu darinya.

 

Dan obsesi tertinggi dalam bab iradah (kehendak jiwa), adalah:

-         Obsesi yang selalu terikat dengan cinta kepada Allah, dan menyesuaikan diri dengan kehendak/perintahNya.

Sedangkan serendah-rendahnya adalah:

-         Obsesi yang selalu menyesuaikan diri dengan kehendak pemiliknya sesuai yang ia minta dari Allah, orang ini beribadah kepadaNya, karena ada maksud yang ia mintakan kepadaNya, bukan karena keinginan Allah kepada orang ini.

Ada perbedaan antara keduanya:

-         Yang pertama, menginginkan Allah dan menginginkan apa yang menjadi kehendakNya

-         Yang kedua, menginginkan sesuatu dari Allah, namun Allah tidak menginginkannya

 

والله أعلم,وصلى الله وسلم على نبينا محمد

 

NB: terjemah bebas..

Riyadh, awal Shafal 1432 H

Thursday, July 1, 2010

Membangun Akhlak Gerakan

Bismillahirrahmanirrahim

Ketika anda membaca judul ini, bisa jadi kesan yang anda tangkap adalah biasa saja atau klise. namun demikian, judul diatas ditulis sebagai jam weker, pengingat, alarm, atau apalah namanya, karena sebagaimana biasa, kita sering kali lupa dan lalai, atau mungkin kita tidak lalai-dalam konteks individu- tapi, bisa jadi kelupaan atau kelalaian orang lain, kemudian kita diamkan dan akhirnya kita anggap itu hal biasa, membuat kelalaian dan kelupaan itu menjadi kelalaian dan kelupaan komunitas, sehingga berujung pada sikap apatisme kolektif, dimana setiap orang mulai kehilangan kepekaan, sensitivitas, terhadap "sesuatu" (baca; something wrong) yang terjadi di sekitarnya.

Allah subhanahu wa ta'ala melaknat sebagian Bani Israil melalui lisan Daud & Isa alaihimassalam, disebabkan sikap apatisme kolektif ini, bahkan bukan saja sikap diam atau pembiaran yang mereka lakukan, tapi mereka secara bersama melakukan kemunkaran itu. Di sisi lain dalam kitabNya, Allah memuji sedemikian rupa dengan predikat khairu ummah, yakni mereka yang secara  kontinyu menjalankan mekanisme amar ma'ruf nahy munkar-setelah keimanan kepada Allah- sebagai tugas peradaban demi mengangkat derajat kemanusiaan.
Melemahnya sensitivitas dan kepekaan menjadikan kualitas khairu ummah terus -secara konstan- terdegradasi, bahkan bisa jadi sampai pada titik nadir, saat kedua mata terbuka tapi tak "melihat" (kebenaran), telinga terpekak tapi tak "mendengar", dan hati berdetak tapi tak "berfiqh".

Akhlak Gerakan

Al Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai gambaran tentang dinamika jiwa yg terekspresikan dalam perbuatan scara spontan & tanpa pikir panjang. dari definisi trsbut kt dapat menggarisbawahi satu hal penting, bahwasanya akhlak/prilaku yg tampak dalam keseharian yg muncul scara alamiah & spontan, merupakan gmbaran sebenarnya dair apa yg terjadi dlm jiwa manusia. Ini mnunjukkan, jika jiwa manusia sudah "tercelup" dengan celupan kebenaran, berarti yg terekspresikan adlah kebenaran, sebaliknya jika jiwa manusia tercelup dengan celupan kbatilan, maka prilakunya pun mngekpresikan kebatilan tersebut. Dari munthalaq inilah, kita memahami pntingnya mentarbiyah, mendidik, dan mencelup jiwa manusia dengan nilai kebenaran yang kuat yang bersumberkan wahyu, shingga wahyu menjdi ukuran dalam setiap perilakunya.

Berbicara tentang gerakan adalah berbicara tentang kumpulan manusia, tentang sekumpulan makhluk Allah yang telah Dia muliakan, dimana mereka bersepakat untuk melakukan sesuatu berlandaskan pemikiran dan ideologi yang satu, dengan cara seirama,  menuju ghayah yang puncak. Inilah yang harus kita garisbawahi, yakni tentang keberadaan kumpulan manusia tersebut sebagai kumpulan, komunitas, yang bermakna jumlah banyak, plural, jamak. Pada titik inilah, kita dapat memahami pentingnya membangun konstruksi kejiwaan kumpulan manusia tersebut di atas pondasi kebenaran, serta mencelup konstruksi tersebut dengan nilai kebenaran pula, sehingga seluruh gerak-gerik, cara, dan tujuan komunitas/kumpulan manusia tersebut, merupakan ekspresi dan gambaran spontan dari nilai kebenaran yang menjadi standar dari setiap unsurnya (baca: anggotanya). Inilah Akhlak Gerakan.

Mengapa?

Mengapa kita perlu menegaskan ulang hal ini? Moralitas Gerakan yang dibangun menemukan tantangannya ketika sebuah gerakan bergulat dengan realita sosial dan realita politik yang ekstrem. Tatkala lapangan nyata tak lagi mengukur pergulatan itu dengan nilai kebenaran, tak begitu nyata mana hak mana batil, mana baik mana buruk, sehingga tak begitu jelas differensiasi antar berbagai komunitas gerakan dari berbagai latarbelakang ideologi dan pemikiran tersebut. Masing-masing saling mempengaruhi, baik dalam arti positif atau negatif. Masing-masing memilih untuk berkompromi, baik dalam soal prinsip atau cabang.
Efek nyata dari pergulatan tersebut adalah saat tampak nyata berbagai fenomena ditubuh Gerakan yang menguatkan hal tersebut. Di saat realita politik kental dengan warna transaksional, kadangkala sadar atau tidak sadar Gerakan ikut terlibat realita tersebut dengan alasan kemaslahatan, atau terpengaruh dengan warna tersebut, atau pada tataran minimal, mengganggapnya “ah itu biasa”. Fenomena lain yang menjadi efek dari pergulatan nilai tersebut juga tampak, saat terjadi peralihan kepemimpinan pada organisasi gerakan, para anggotanya tak lagi malu-malu mencalonkan diri, ini memang suatu yang normal, fastabiqul khairat kata mereka, kita harus menyiapkan diri menjadi pemimpin, tambahnya. Tidak ada yang salah dari fenomena tersebut, tapi garis pembeda antar mana yang layak (baca: etis) dan tidak tampak semakin kabur, di kala sebagian mereka seakan melakukan banyak hal sedemikian rupa, menggalang kekuatan, mencari dukungan, menyerukan kampanye “pilih saya, I’m the best”, bahkan sampai pada tingkat berlatih gaya transaksional “level awal”, ayo kita selesaikan di meja makan, kata mereka, atau sebagian bilang, pilih saya nanti anda dapat posisi, sehingga yang tak dapat posisi pun berkata “oo-posisi”.

Hasanaatus Abraar, Sayyiaatul Muqarrabin

Hasanatus Abraar, Sayyiaatul Muqarrabin, demikian para ulama bertutur, kebaikan orang-orang abraar (baik), tampak buruk bagi para muqarrabin (sangat dekat kepada Allah). Apa yang biasa saja (normal) bagi orang biasa, bisa jadi tidak layak (aib) bagi orang bertakwa. Kawan, ini bukan soal boleh atau tidak, bukan soal halal atau haram, tetapi ini soal layak atau tidak layak. Tatkala sebuah Gerakan mengklaim membangun konstruksi gerakannya di atas kebenaran, bagaimana dia mendefinisikan “layak dan tidak layak” ini? Sudah seharusnya bagi Gerakan untuk memformulasikan, nilai-nilai apa yang menjadi standar etik bagi gerakan, sehingga nilai-nilai inilah justru yang menjadi kekhasan dan differensiasi gerakan tersebut, dan bukan tidak mungkin tatkala komitmen dan konsistensi terhadap nilai menjadi irama gerakan, semua orang takjub, terpesona bahkan jatuh cinta seraya berkata, kami ingin bergabung.

Wallahu A’lam.

Friday, April 9, 2010

Tentang Seorang Guru

Laki-laki jelang 30an itu pernah bertutur pada muridnya, 9 tahun usianya,

“Nak, suatu malam saya pernah bermimpi, saya sedang mencari ikan di danau yang luas, ikannya begitu melimpah. Saya mencoba mencari dan memancing ikan sebanyak-banyaknya, saya pun menggunakan jaring yang besar dan kuat, agar dapat menghasilkan ikan yang banyak dan melimpah

Namun, anehnya, dari sekian banyak ikan yang melimpah itu, ternyata sulit sekali untuk menjaring ikan-ikan tersebut, untuk mendapatkan satu ekor ikan butuh waktu lama, kegigihan yang luar biasa, serta kesabaran yang ekstra

Ternyata setelah tiga tahun saya duduk menunggu hasil tangkapan ikan, hanya satu yang berhasil saya dapatkan, ikan tersebut tampak berkualitas baik, berbeda dengan ikan-ikan yang lain.. saya pun pulang, saya merasa lelah, rasanya sudah merasa cukup hanya dengan satu ikan tersebut..

Tahukah kamu, nak? Maksud dari cerita saya? Satu ikan tersebut adalah kamu, ya kamu, dari sekian banyak murid-murid saya yang saya bina, ternyata hanya satu yang berhasil saya didik hingga selesai menuntaskan tugasnya..

Sepanjang 3 tahun saya bersabar, duduk bersama kalian dari mulai keadaan kalian yang tidak bisa membaca alqur’an hingga saat ini, saya berusaha untuk teguh, tidak goyah, tidak jenuh, saya hanya punya cita-cita agar kalian bisa menyelesaikan tugasnya, selesai 30 juz, hanya itu cita-cita saya, tidak yang lain. Ternyata Allah Ta’ala takdirkan, hanya satu yang tuntas, hanya kamu, ya hanya kamu..

Jejaring yang saya gunakan begitu kuat dan besar, berbagai cara saya tempuh agar kalian semua berhasil terangkat menuju kedudukan dan keutamaan yang tinggi itu, derajat Ahlul Qur’an.. 4 kali sehari saya duduk bersama kalian, hingga lantai marmer dingin itu menjadi saksi, serta atap kayu itu menjadi bukti, agar kelak saya di hadapan Allah bisa berapologi; Ya Allah, Allahumma fasyhad..

Saat ini, 3 tahun sudah waktu berlalu, saya merasa cukup sudah, saatnya saya berpindah tempat, kembali ke kampung halaman, menunaikan hak masyarakat atas saya yang belum sempat saya tunaikan

Nak, kamulah ikan itu, ikan yang berhasil saya angkat menuju derajat itu, maka manfaatkanlah, bersyukurlah, bergunalah untuk orang banyak, jagalah kedudukan dan keutamaan itu, jangan kau terperosok ke dalam jurang nista, karena nikmat itu begitu tiada tara. Jangan kau menangis dengan kepergianku, usiamu masih panjang, belajarlah dari banyak guru, siapapun, kapanpun, dan dimanapun, dan sesungguhnya kehidupan yang panjang ini, adalah guru hakikimu..”

Mengenang seorang guru yang begitu berjasa (1994-1997), Jazakamullah khairan ya ustadz dimanapun anda berada..