Thursday, December 29, 2011

Tentang Obsesi

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Secuil inspirasi dari Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid:

 

 

أعلى الهمم فى طلب العلم، طلب علم الكتاب والسنة والفهم عن الله ورسوله نفس المراد، وعلم حدود المنزل. وأخس همم طلاب العلم قصر همته على تتبع شواذ المسائل وما لم ينزل ولا هو واقع أو كانت همته معرفة الاختلاف وتتبع أقوال الناس وليس له همة الى معرفة الصحيح من تلك الأقوال وقل أن ينتفع واحد من هؤلاء بعلمه. وأعلى الهمم فى باب الارادة أن تكون الهمة متعلقة بمحبة الله والوقوف مع مراده الدينى الأمرى, وأسفلها أن تكون الهمة واقفة مع مراد صاحبها من الله فهو انما يعبده لمراده منه لا لمراد الله منه فالاول يريد الله ويريد مراده والثاني يريد من الله وهو فارغ عن إرادته

 

Obsesi tertinggi dalam mencari ilmu, adalah:

-         Mendalami ilmu alqur’an dan sunnah,

-         Memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan maksudnya, serta

-         Memahami batasan2 yang sudah diturunkan (wahyu)


Sedangkan serendah-rendah obsesi pencari ilmu adalah membatasi obsesinya, semata-mata:

-         mencari-cari persoalan yang syadz/anomaly (menyimpang dari keumuman)

-         Membahas hal2 yang belum terjadi, dan tidak terjadi

-         Mencari tahu ikhtilaf/perbedaan pendapat, meneliti satu-satu pendapat orang, tanpa berusaha mencari tahu pendapat yang benar, dan dipastikan sedikit orang yang akan mengambil ilmu darinya.

 

Dan obsesi tertinggi dalam bab iradah (kehendak jiwa), adalah:

-         Obsesi yang selalu terikat dengan cinta kepada Allah, dan menyesuaikan diri dengan kehendak/perintahNya.

Sedangkan serendah-rendahnya adalah:

-         Obsesi yang selalu menyesuaikan diri dengan kehendak pemiliknya sesuai yang ia minta dari Allah, orang ini beribadah kepadaNya, karena ada maksud yang ia mintakan kepadaNya, bukan karena keinginan Allah kepada orang ini.

Ada perbedaan antara keduanya:

-         Yang pertama, menginginkan Allah dan menginginkan apa yang menjadi kehendakNya

-         Yang kedua, menginginkan sesuatu dari Allah, namun Allah tidak menginginkannya

 

والله أعلم,وصلى الله وسلم على نبينا محمد

 

NB: terjemah bebas..

Riyadh, awal Shafal 1432 H

Thursday, July 1, 2010

Membangun Akhlak Gerakan

Bismillahirrahmanirrahim

Ketika anda membaca judul ini, bisa jadi kesan yang anda tangkap adalah biasa saja atau klise. namun demikian, judul diatas ditulis sebagai jam weker, pengingat, alarm, atau apalah namanya, karena sebagaimana biasa, kita sering kali lupa dan lalai, atau mungkin kita tidak lalai-dalam konteks individu- tapi, bisa jadi kelupaan atau kelalaian orang lain, kemudian kita diamkan dan akhirnya kita anggap itu hal biasa, membuat kelalaian dan kelupaan itu menjadi kelalaian dan kelupaan komunitas, sehingga berujung pada sikap apatisme kolektif, dimana setiap orang mulai kehilangan kepekaan, sensitivitas, terhadap "sesuatu" (baca; something wrong) yang terjadi di sekitarnya.

Allah subhanahu wa ta'ala melaknat sebagian Bani Israil melalui lisan Daud & Isa alaihimassalam, disebabkan sikap apatisme kolektif ini, bahkan bukan saja sikap diam atau pembiaran yang mereka lakukan, tapi mereka secara bersama melakukan kemunkaran itu. Di sisi lain dalam kitabNya, Allah memuji sedemikian rupa dengan predikat khairu ummah, yakni mereka yang secara  kontinyu menjalankan mekanisme amar ma'ruf nahy munkar-setelah keimanan kepada Allah- sebagai tugas peradaban demi mengangkat derajat kemanusiaan.
Melemahnya sensitivitas dan kepekaan menjadikan kualitas khairu ummah terus -secara konstan- terdegradasi, bahkan bisa jadi sampai pada titik nadir, saat kedua mata terbuka tapi tak "melihat" (kebenaran), telinga terpekak tapi tak "mendengar", dan hati berdetak tapi tak "berfiqh".

Akhlak Gerakan

Al Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai gambaran tentang dinamika jiwa yg terekspresikan dalam perbuatan scara spontan & tanpa pikir panjang. dari definisi trsbut kt dapat menggarisbawahi satu hal penting, bahwasanya akhlak/prilaku yg tampak dalam keseharian yg muncul scara alamiah & spontan, merupakan gmbaran sebenarnya dair apa yg terjadi dlm jiwa manusia. Ini mnunjukkan, jika jiwa manusia sudah "tercelup" dengan celupan kebenaran, berarti yg terekspresikan adlah kebenaran, sebaliknya jika jiwa manusia tercelup dengan celupan kbatilan, maka prilakunya pun mngekpresikan kebatilan tersebut. Dari munthalaq inilah, kita memahami pntingnya mentarbiyah, mendidik, dan mencelup jiwa manusia dengan nilai kebenaran yang kuat yang bersumberkan wahyu, shingga wahyu menjdi ukuran dalam setiap perilakunya.

Berbicara tentang gerakan adalah berbicara tentang kumpulan manusia, tentang sekumpulan makhluk Allah yang telah Dia muliakan, dimana mereka bersepakat untuk melakukan sesuatu berlandaskan pemikiran dan ideologi yang satu, dengan cara seirama,  menuju ghayah yang puncak. Inilah yang harus kita garisbawahi, yakni tentang keberadaan kumpulan manusia tersebut sebagai kumpulan, komunitas, yang bermakna jumlah banyak, plural, jamak. Pada titik inilah, kita dapat memahami pentingnya membangun konstruksi kejiwaan kumpulan manusia tersebut di atas pondasi kebenaran, serta mencelup konstruksi tersebut dengan nilai kebenaran pula, sehingga seluruh gerak-gerik, cara, dan tujuan komunitas/kumpulan manusia tersebut, merupakan ekspresi dan gambaran spontan dari nilai kebenaran yang menjadi standar dari setiap unsurnya (baca: anggotanya). Inilah Akhlak Gerakan.

Mengapa?

Mengapa kita perlu menegaskan ulang hal ini? Moralitas Gerakan yang dibangun menemukan tantangannya ketika sebuah gerakan bergulat dengan realita sosial dan realita politik yang ekstrem. Tatkala lapangan nyata tak lagi mengukur pergulatan itu dengan nilai kebenaran, tak begitu nyata mana hak mana batil, mana baik mana buruk, sehingga tak begitu jelas differensiasi antar berbagai komunitas gerakan dari berbagai latarbelakang ideologi dan pemikiran tersebut. Masing-masing saling mempengaruhi, baik dalam arti positif atau negatif. Masing-masing memilih untuk berkompromi, baik dalam soal prinsip atau cabang.
Efek nyata dari pergulatan tersebut adalah saat tampak nyata berbagai fenomena ditubuh Gerakan yang menguatkan hal tersebut. Di saat realita politik kental dengan warna transaksional, kadangkala sadar atau tidak sadar Gerakan ikut terlibat realita tersebut dengan alasan kemaslahatan, atau terpengaruh dengan warna tersebut, atau pada tataran minimal, mengganggapnya “ah itu biasa”. Fenomena lain yang menjadi efek dari pergulatan nilai tersebut juga tampak, saat terjadi peralihan kepemimpinan pada organisasi gerakan, para anggotanya tak lagi malu-malu mencalonkan diri, ini memang suatu yang normal, fastabiqul khairat kata mereka, kita harus menyiapkan diri menjadi pemimpin, tambahnya. Tidak ada yang salah dari fenomena tersebut, tapi garis pembeda antar mana yang layak (baca: etis) dan tidak tampak semakin kabur, di kala sebagian mereka seakan melakukan banyak hal sedemikian rupa, menggalang kekuatan, mencari dukungan, menyerukan kampanye “pilih saya, I’m the best”, bahkan sampai pada tingkat berlatih gaya transaksional “level awal”, ayo kita selesaikan di meja makan, kata mereka, atau sebagian bilang, pilih saya nanti anda dapat posisi, sehingga yang tak dapat posisi pun berkata “oo-posisi”.

Hasanaatus Abraar, Sayyiaatul Muqarrabin

Hasanatus Abraar, Sayyiaatul Muqarrabin, demikian para ulama bertutur, kebaikan orang-orang abraar (baik), tampak buruk bagi para muqarrabin (sangat dekat kepada Allah). Apa yang biasa saja (normal) bagi orang biasa, bisa jadi tidak layak (aib) bagi orang bertakwa. Kawan, ini bukan soal boleh atau tidak, bukan soal halal atau haram, tetapi ini soal layak atau tidak layak. Tatkala sebuah Gerakan mengklaim membangun konstruksi gerakannya di atas kebenaran, bagaimana dia mendefinisikan “layak dan tidak layak” ini? Sudah seharusnya bagi Gerakan untuk memformulasikan, nilai-nilai apa yang menjadi standar etik bagi gerakan, sehingga nilai-nilai inilah justru yang menjadi kekhasan dan differensiasi gerakan tersebut, dan bukan tidak mungkin tatkala komitmen dan konsistensi terhadap nilai menjadi irama gerakan, semua orang takjub, terpesona bahkan jatuh cinta seraya berkata, kami ingin bergabung.

Wallahu A’lam.

Friday, April 9, 2010

Tentang Seorang Guru

Laki-laki jelang 30an itu pernah bertutur pada muridnya, 9 tahun usianya,

“Nak, suatu malam saya pernah bermimpi, saya sedang mencari ikan di danau yang luas, ikannya begitu melimpah. Saya mencoba mencari dan memancing ikan sebanyak-banyaknya, saya pun menggunakan jaring yang besar dan kuat, agar dapat menghasilkan ikan yang banyak dan melimpah

Namun, anehnya, dari sekian banyak ikan yang melimpah itu, ternyata sulit sekali untuk menjaring ikan-ikan tersebut, untuk mendapatkan satu ekor ikan butuh waktu lama, kegigihan yang luar biasa, serta kesabaran yang ekstra

Ternyata setelah tiga tahun saya duduk menunggu hasil tangkapan ikan, hanya satu yang berhasil saya dapatkan, ikan tersebut tampak berkualitas baik, berbeda dengan ikan-ikan yang lain.. saya pun pulang, saya merasa lelah, rasanya sudah merasa cukup hanya dengan satu ikan tersebut..

Tahukah kamu, nak? Maksud dari cerita saya? Satu ikan tersebut adalah kamu, ya kamu, dari sekian banyak murid-murid saya yang saya bina, ternyata hanya satu yang berhasil saya didik hingga selesai menuntaskan tugasnya..

Sepanjang 3 tahun saya bersabar, duduk bersama kalian dari mulai keadaan kalian yang tidak bisa membaca alqur’an hingga saat ini, saya berusaha untuk teguh, tidak goyah, tidak jenuh, saya hanya punya cita-cita agar kalian bisa menyelesaikan tugasnya, selesai 30 juz, hanya itu cita-cita saya, tidak yang lain. Ternyata Allah Ta’ala takdirkan, hanya satu yang tuntas, hanya kamu, ya hanya kamu..

Jejaring yang saya gunakan begitu kuat dan besar, berbagai cara saya tempuh agar kalian semua berhasil terangkat menuju kedudukan dan keutamaan yang tinggi itu, derajat Ahlul Qur’an.. 4 kali sehari saya duduk bersama kalian, hingga lantai marmer dingin itu menjadi saksi, serta atap kayu itu menjadi bukti, agar kelak saya di hadapan Allah bisa berapologi; Ya Allah, Allahumma fasyhad..

Saat ini, 3 tahun sudah waktu berlalu, saya merasa cukup sudah, saatnya saya berpindah tempat, kembali ke kampung halaman, menunaikan hak masyarakat atas saya yang belum sempat saya tunaikan

Nak, kamulah ikan itu, ikan yang berhasil saya angkat menuju derajat itu, maka manfaatkanlah, bersyukurlah, bergunalah untuk orang banyak, jagalah kedudukan dan keutamaan itu, jangan kau terperosok ke dalam jurang nista, karena nikmat itu begitu tiada tara. Jangan kau menangis dengan kepergianku, usiamu masih panjang, belajarlah dari banyak guru, siapapun, kapanpun, dan dimanapun, dan sesungguhnya kehidupan yang panjang ini, adalah guru hakikimu..”

Mengenang seorang guru yang begitu berjasa (1994-1997), Jazakamullah khairan ya ustadz dimanapun anda berada..

Monday, September 1, 2008

Ramadhan Mulia, antara Idealitas dan Realitas

Bismillahirrahmanirrahim, ada tulisan lama yang tersimpan..

RAMADHAN MULIA: ANTARA IDEALITAS DAN REALITAS

 

Bulan Ramadhan telah tiba, tamu nan mulia itu menggemakan keagungan dan keberkahannya. Euforia kegembiraan dan simbol-simbol ada dimana-mana menyambut kedatangan sang tamu agung itu.

           
Ya, itulah Ramadlan, bulan yang penuh berkah dan ampunan bagi siapa saja, ungkapan ini sudah begitu akrab di telinga kita, hingga sudah menjadi rutinitas tahunan untuk merayakan kedatangannya. Di dalamnya pun Allah memberikan bonus pahala yang berlipat ganda bagi hamba-hambaNya yang berpuasa dan beribadah dengan ikhlas, pintu-pintu surga dan kebaikan terbuka sedemikian rupa, sungguh suasana begitu sejuk dan religius yang terjadi di depan mata. Maka dapat kita lihat, diawal-awal bulan, masjid begitu penuh disaat-saat tarawih dilakukan, masyarakat begitu antusias mengikuti proses suasana religiusitas yang begitu tinggi, seakan masyarakat kita telah berubah secara spontan menjadi masyarakat yang saleh.

 

Di sisi lain, bulan ini pun menjadi berkah. Bagi industri layar kaca, peluang bisinis terbuka lebar dengan beramai-ramai menayangkan acara-acara religius, baik itu ceramah hingga sinetron, artis-artis yang biasa tampak dalam hidup glamour dan gemerlap, tiba-tiba berubah menjadi sosok-sosok alim yang mudah menangis tatkala mendengar ceramah agama ataupun siraman rohani, berbalutkan jilbab atau peci, gamis atau baju koko.

           

Ya, itulah fenomena euforia Ramadhan, yang terjadi hampir setiap tahunnya, tentunya, secara zahir menjadi faktor penyebab kegembiraan yang membuncah dalam dada kita, kaum muslimin, yang selalu mendambakan suasana penuh kedamaian, religiusitas, ketenangan beribadah penuh kesejukan.

           

Namun, ada banyak serentetan pertanyaan yang patut dipertanyakan pada diri kita, diantaranya; mengapa di bulan Ramadhan, yang disebut sebagai saat-saat penuh solidaritas dan kepedulian, orang menjadi begitu konsumtif? Mengapa terjadi penurunan kuantitas shalat berjamaah di masjid ketika memasuki pertengahan bulan? Mengapa orang lebih tertarik menonton acara televisi dirumahnya dibanding tilawah qur’an di masjid? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing karena pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagian kecil dari sekian banyak pertanyaan yang berkaitan langsung dengan diri kita, kaum muslimin.

           

Betapa Maha Pemurahnya Dia, Rabb Maha Agung, Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyediakan Ramadhan untuk kita, sebagai sarana yang begitu sempurna dalam rangka memperbaiki kualitas diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dengan banyak beramal shaleh. Melalui puasa, shalat, zakat dsb yang semuanya mempunyai dimensi manfaat yang begitu sempurna baik bagi diri kita secara individu maupun secara kolektif.

           

Maka, begitu Pemurahnya Dia, yang telah menyiapkan bagi kita, hamba-hambaNya malam Lailatul Qadr, malam yang penuh keberkahan yang jika kita beribadah didalamnya bernilai lebih baik dari beribadah 1000 bulan, namun seringkali kita menyepelekan dan melalaikannya dengan lebih memilih tidur pulas dirumah kekenyangan, dibandingkan menghabiskannya dengan shalat malam penuh penghambaan. Dan begitu Pengasihnya Dia, yang telah menyediakan 10 hari terakhir dengan janjiNya, pembebasan dari api neraka, namun, yang kita lakukan adalah menghabiskan waktu dengan shopping dimall, supermarket, dengan alasan menyiapkan lebaran dibandingkan beri’tikaf, bermunajat padaNya dimasjid.

           

Berbagai fenomena itulah, mungkin yang membawa kita pada sebuah kesimpulan; Ramadhan dengan segala keagungan dan keberkahannya, ternyata seringkali kita lewati dengan euforia kegembiraan sesaat, dengan simbol-simbol belaka, sehingga kita seringkali melewatinya seakan-seakan sebagai rutinitas tahunan tanpa makna, karena itu tak sedikitpun taqwa kita meningkat, kesalehan sosial masyarakat yang tak kunjung muncul pasca Ramadhan, pejabat-pejabat korup pun kembali merajalela seakan makna Ramadhan sebagai saat pembinaan diri, tak berbekas sama sekali pada diri mereka, dan ternyata Ramadhan pun tak memberi dampak apa-apa bagi kita, Astaghfirullahaladzim.

           

Oleh karena itu, marilah kita semua menyadari akan permasalahan yang ada disekeliling kita, dan jangan sampai karena kelalaian kita, Ramadhan pun meninggalkan kita tanpa memberi makna apa-apa dan kita termasuk orang-orang yang merugi, tanpa tahu apakah kita akan bertemu lagi tahun depan. Maka menangislah kita jika kita akan ia akan meninggalkan kita, menyesallah kita jika kita tidak memanfaatkan saat-saat itu dengan sebaik-baiknya. Dan jangan sebaliknya, justru kita gembira seakan kita lepas dari kepenatan, kelelahan berpuasa setelah itu kita kembali memenuhi hawa nafsu kita sepuasnya. Naudzubillah min dzalik.

           

Wallahu a’lam bishshawab

Jakarta, akhir 2004

Menyambut Ramadhan

Alhamdulillah, sampai hari ini Allah Ta’ala masih memberikan nikmat yang tak terkira pada kita. Dengan karuniaNya kita akhirnya mampu menjejakkan kaki  dan menghela nafas dalam suasana Bulan yang mulia, bulan Ramadhan, tamu yang selama ini sudah kita tunggu kedatangannya. Tamu yang membuat kita sibuk bersiap-siap agar tak kehilangan momen emasnya.

Sudah barang tentu, suasana euphoria kegembiraan sangat terasa di setiap dada kaum muslimin. Memang, itulah sikap yang seharusnya kita tampakkan ketika datang tamu agung itu. Namun demikian, alangkah baiknya jika kita menengok satu-dua hadits, bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan para sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya bagaimana menyambut Ramadhan..

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abu Hurairah ra,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فقَدْ حُرِمَ

“Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada para sahabatnya: “Telah datang pada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan pada kalian berpuasa pada bulan itu. Di bulan itu dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syaithan-syaithan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikan malam itu, maka sesungguhnya ia terhalang dari kebaikan seluruhnya”

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam syarah terhadap hadits di atas mengatakan,

“Hadits ini adalah dasar bagi sesama manusia untuk saling mengucapkan selamat atas kedatangan bulan Ramadhan. Bagaimana mungkin tidak bergembira seorang mu’min ketika pintu-pintu surga dibuka? Bagaimana mungkin tidak bergembira seorang pendosa ketika pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana mungkin tidak bergembira seorang berakal ketika syaithan-syaithan dibelenggu?”

Dari hadits yang singkat di atas dan syarah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab rahimahullah tersebut, dapat kita simpulkan bahwa :

1.      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengkondisikan para sahabatnya ketika memasuki bulan Ramadhan, agar setiap mereka dapat mempersiapkan diri secara fisik, mental dan spiritual

2.      Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan para sahabatnya untuk bersikap gembira dengan kedatangan Ramadhan itu, dan dari perkataan Ibnu Rajab dapat kita katakan bahwa sesungguhnya kesempatan untuk bergembira itu tidak terbatas pada orang mu’min yang shaleh saja tapi bahkan orang mu’min pendosa pun mesti bergembira

3.      Menarik ketika Rasulullah menyebut Ramadhan dengan sebutan “Syahr Mubarak”. Apa sebenarnya makna yang terkandung di balik kata itu? Dalam hadits tersebut Rasulullah menyebutkan keberkahan sebagai sifat pertama yang disebutkan di awal yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Memang, pelajaran pentingnya adalah, sesungguhnya keberhasilan dalam segala amal tergantung apakah amal itu berkah atau tidak. Dan berkah, menurut definisi para Ulama adalah, ziyadatul khair fii syai’ (bertambahnya kebaikan dalam sesuatu). Jadi, yang dituntut dari kita adalah ketika memasuki bulan Ramadhan, grafik amal ibadah kita mesti naik, bertambah terus menerus, bukan stagnan apalagi turun. Begitulah tradisi yang diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

 

Terakhir, mungkin saat ini tradisi yang baik sudah mulai muncul di antara kita, yaitu tradisi mengucapkan selamat kepada sesama kita dengan kedatangan bulan Ramadhan. Puluhan sms, mungkin ratusan, mampir di HP kita dalam beberapa hari terakhir. Namun barangkali ada satu hal yang mungkin kita lupa, yaitu membaca doa yang diajarkan Rasulullah ketika memasuki malam pertama bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, dari Ibnu Umar ra,

 

ان النبي صلى لله عليه وسلم إذى رأى الهلال قال : اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان ، والسلامة والإسلام ربنا وربك الله

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hilal (ramadhan) berdoa, “Allahumma Ahhilhu ‘alaina bil Amni wal Iman, was Salamah wal Islam, Rabbuna wa Rabbuka Allah…” (Ya Allah, munculkan ia kepada kami dalam keadaan aman, iman, keselamatan, dan Islam..Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah”

 

Sudahkah anda membaca doa itu malam pertama kemarin?

Wallahu waliyuttaufiq…

010929

Wednesday, August 20, 2008

Tentang Ibtila'..

Bismillahirrahmanirrahim..

Tahukah anda makna ibtila'?

Jika tahu, sadarkah anda bahwa anda sedang dalam proses ibtila'?

Jika sadar, bagaimana sikap anda menghadapi proses ibtila'?

Pertanyaan2 di atas adalah pertanyaan-pertanyaan kontemplatif..yang menuntut sikap kerendahhatian kita dalam memahami kehidupan ini..

Allah Ta'ala berfirman..
"Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji (ibtila') kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.." (QS Al Mulk:2)

Catatan ini adalah sebuah ungkapan tentang bagian kehidupan yang saya alami dalam rangka memahami sunnatullah itu..sunnah tentang ibtila' (ujian) yang telah Allah gulirkan dalam kehidupan setiap individu anak manusia...

Alkisah, peristiwa ini terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika saya masih disibukkan dengan program perkuliahan semester VI di kampus saya tercinta, LIPIA Jakarta.. saat itu Allah menghendaki saya harus menghadapi cobaan-cobaan hidup yang beruntun, yang cukup menguji ketegaran, daya tahan, dan kesabaran saya dalam menghadapi kehidupan ini..

Semester itu, sebagaimana lazimnya perkuliahan di kampus kami, setiap mahasiswa semester IV, VI & VIII Fak. Syariah diwajibkan menulis semacam karya ilmiah, atau dalam istilah kami biasa disebut bahts. Rentang waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas itu cukup singkat, hanya 1 bulan lebih sedikit. Sistem yang berlaku disana adalah, kami para mahasiswa dipersilahkan memilih tema-tema yang telah ditentukan pihak Jurusan, tema-tema tersebut berkisar tentang pembahasan fiqih, ushul fiqh, tafsir, aqidah dsb, yang sesuai dengan kapasitas kami. Entah kenapa, Allah menggerakkan hati saya untuk memilih satu tema yang berkisar seputar pembahasan tafsir tematik..

Al-Ibtila’ wal Fitnah min Khilali Suratil ’Ankabut (Cobaan dan fitnah dalam tinjauan surat Al Ankabut), itulah judul yang saya pilih untuk bahts saya. Saat itu saya tidak tahu skenario apa yang Allah siapkan di kemudian hari dengan menggerakkan hati saya untuk memilih judul ini, saat itu saya hanya merasa, ini sesuai dengan minat dan kompetensi saya, yang memang ’muyul’ dengan kajian-kajian alqur’an..

Mulailah saya mengumpulkan bahan-bahan berupa kitab-kitab tafsir, baik klasik maupun modern, serta kajian-kajian tafsir yang bersifat tematik.. terus terang saja, pembahasan ini cukup sulit, mengingat masih jarang para pakar yang mengupas tafsir tematik dalam sudut pandang satu surat tertentu. Kesulitan bermula dari bagaimana menentukan Khuttah Bahts (kerangka ilmiah), hingga kesulitan mencari contoh model dari pembahasan tafsir tematik tersebut. Hingga teman-teman saya yang punya tema yang sama dengan saya berkelakar ”ini benar-benar ibtila’ sesuai dengan judulnya”. Bahan-bahan yang telah saya kumpulkan tersebut saya ”peras”, saya ringkas, saya tulis ulang dalam satu buku catatan khusus, dengan harapan beberapa pekan menjelang deadline pengumpulan, saya tinggal mengetik di komputer.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa waktu, mulailah Allah menggulirkan skenarioNya dalam rangka menguji saya dalam proses penulisan bahts ini. Saat itu, beberapa hari menjelang deadline yang jatuh pada Senin, 5 Mei 2008, saya mulai menulis bahts saya di komputer, dalam bahasa Arab tentunya. Hari itu, Kamis 1 Mei 2008, saya sudah menyelesaikan kurang lebih 60% dari pembahasan. Hati ini agak lega, bisa agak bersantai, mengingat masih ada waktu untuk menyelesaikan sisanya. Siang hari, saya menyempatkan untuk datang ke persiapan acara teman-teman FIM VI (Forum Indonesia Muda), kebetulan saya diminta menjadi panitia acara tersebut yang berlangsung 2-4 Mei 2008. sore hari, saya pamit pulang, dengan harapan bisa kembali esok hari setelah melanjutkan penulisan bahts di rumah.

Tak dinyana, ternyata Allah punya kehendak yang jauh di luar rencana saya, hambaNya yang dhaif ini. Saat itu keluarga saya memang sedang dirundung musibah, kakak saya dan dua adik saya masuk RS karena Malaria, DB dan bronkhitis yang cukup parah. Saya tidak menyangka bahwa saya juga akan dipilih Allah untuk mengalami ibtila’ itu..

Malam itu, setelah saya sampai dirumah, saya kembali membuka file bahts saya di komputer. Saat itulah Allah meng-ibtila’- saya, seluruh isi file yang telah saya tulis itu berubah menjadi kode-kode/huruf-huruf mesin yang tak dikenal alias tidak terbaca sama sekali. Saya panik, karena itulah hasil jerih payah saya selama beberapa pekan, dan deadline tinggal beberapa hari lagi. Saya coba untuk tenang, saya tutup file itu dan saya coba buka di laptop lain, ternyata hasilnya sama, saya coba utak-atik di bagian font & language, ternyata tidak berpengaruh, artinya sama dengan file itu hilang. Saya beristighfar beberapa kali, nyaris menangis saya, mengingat menulis kembali tulisan sebanyak itu dalam bahasa Arab bukan hal yang mudah, sementara deadline tinggal 3 hari lagi. Akhirnya malam itu, saya putuskan untuk mengulang kembali penulisan dari awal, saya minta izin kepada kawan-kawan panitia FIM untuk tidak bisa menghadiri acara esok hari. Saat itu saya terfikir untuk meminta bantuan teman yang menguasai masalah ini, atau teman sesama mahasiswa LIPIA, tetapi akhirnya saya putuskan untuk mengulang kembali dari awal, karena mempertimbangkan file tersebut belum tentu bisa kembali dalam waktu singkat.

Saya pun berjuang kembali menulis dari awal, malam itu saya tidur hanya sebentar, jum’at pagi (2/5/08) saya melanjutkan kembali penulisan itu, hingga akhirnya pada siang jum’at itu saya telah menyelesaikan 60% dari pembahasan, sama dengan tulisan semula yang telah hilang. Tak disangka, sore hari itu, Allah kembali menguji saya yang semakin lemah ini, hasil penulisan saya yang sudah lumayan itu, kembali mengalami hal yang sama dengan hari sebelumnya, alias hilang semua, tidak terbaca! Allahu Akbar, Astaghfirullahal azhim, berkali-kali saya berisitighfar, nyaris frustasi, menangis, apa yang Allah kehendaki dari skenario ini..? saya coba tenang, menyabarkan diri, mungkin Allah punya kehendak lain untuk saya..akhirnya saya coba kontak beberapa teman, teman dari LIPIA menyarankan untuk kontak langsung dosen pembimbing untuk meminta rukhsah agar bisa diundur pengumpulan bahtsnya. Alhamdulillah ada seorang teman dekat yang mahir soal komputer mau membantu saya, melalui bantuannya dapat terselamatkan beberapa halaman dari bab pertama bahts tersebut, meskipun saya harus masih berjuang lagi, karena masih tersisa 3 bab belum ditulis.

Hari sabtu (3/5) saya kembali berjuang dengan sisa tenaga akibat terkuras hari sebelumnya, disamping akibat stress juga, saya terkena demam dan sakit kepala yang luar biasa. Akhirnya saya putuskan hari sabtu hingga malam ahad itu untuk istirahat, mengumpulkan tenaga kembali dan membenahi kembali mental dan hubungan dengan Sang Khalik..

Malam ahad itu, saya coba menelepon dosen pembimbing saya, DR Abdullah Al-Sabty, seorang syaikh yang cukup bijak..dengan harapan mendapat kemurahan dan rukhsah agar bisa mengumpulkan setelah hari senin (5/5), saya utarakan masalah saya, beliau hanya bisa menjawab, ”Laisa lii minal amri syai’, al amru biyadi rai’sil qism ya faris”, (maaf, saya tidak punya wewenang, wewenang di tangan Ketua Jurusan ya faris), beliau hanya bisa mendoakan, mudah2an dimudahkan Allah.. akhirnya malam itu saya istirahat total, merenung, memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah.

Ahad pagi, dalam keadaan belum fit benar, saya melanjutkan kembali perjuangan untuk menulis bahts, mengulang dari bab pertama yang belum sempurna benar, alhamdulillah Allah berkehendak masalah yang serupa tidak terulang pada hari itu. Saya cukup waspada dengan meng-copy hingga beberapa file. Alhamdulillah, akhirnya dengan izin Allah, setelah nyaris sehari semalam non-stop menulis dari ahad pagi hingga senin dini hari, saya bisa menyelesaikan penulisan bahts pada jam 4 pagi senin dini hari, tanpa tidur sama sekali dengan tubuh yang semakin penat dan tidak bisa diajak kompromi, pagi itu saya menyelesaikan 50 halaman dengan 4 bab secara sempurna, kajian tematik tafsir surat al ankabut.. Allahu Akbar walillahil hamd.. pagi itu saya masuk kuliah dalam keadaan lesu dan lelah kemudian menyerahkan hasil kerja keras dan jerih payah tersebut kepada dosen pembimbing.. kawan-kawan yang mendengar cerita saya hanya menggelengkan kepala, sebagian mengatakan, ”Allah benar-benar memberikan ibtila’ pada antum dengan (judul) ibtila’ ini akhi”..

Setelah peristiwa itu, saya mencoba merenung, melongok ke dalam, apa hikmah dibalik semua itu. saya berfikir, mungkin Allah menginginkan agar saya benar-benar bisa merasakan secara langsung dengan akal dan jiwa saya kajian tentang ibtila’ itu, agar saya bisa ”bersenyawa” dengan alqur’an dengan akal dan ruh saya, dan mungkin juga Allah menghendaki agar saya mendapatkan hasil yang baik dari kajian itu...

Benar saja, segala puji bagi Allah, beberapa pekan kemudian, dalam forum munaqasyah (presentasi & diskusi) dengan dosen pembimbing dan kawan-kawan yang satu tema dengan saya, dosen kami mengatakan tentang bahts saya, ”Hadza afdhalul buhuts allati ja’atnii..” (ini adalah bahts yang paling baik di antara bahts2 yang lain yang sampai ke saya)... saat itu saya teringat apa yang saya tulis dalam bahts tersebut, bahwasanya Allah berfirman,

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون ؟ (العنكبوت: 2)

“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan begitu saja dengan mengatakan, “kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji ?”

Wallahu ‘alam…

210808

Thursday, July 24, 2008

Tarbiyah, Menjaga kita dari Polusi*


Saya percaya tarbiyah harus dimulai sejak dini, sejak muda. Bahkan kalau bisa sejak kecil, karena tarbiyah berpengaruh sekali dalam pembentukan karakter seorang pemuda. Bagi dirinya pribadi, tarbiyah akan menentukan masa depan, menentukan kepribadiannya. Menentukan bagaimana dia melihat masa depannya, bagaimana dia melihat dien-nya, bagaimana dia menyikapi permasalahan umat dan bangsanya. Semuanya bermula dari proses tarbiyah sejak muda.

Orangtua berperan sebagai pelaksana tarbiyah bagi anaknya. Kita kan sejak kecil mendapat tarbiyah dari orangtua masing-masing. Kalau tarbiyah secara islamiyah, peran orangtua adalah mengenalkan nilai-nilai Islam sejak kecil dalam lingkungan keluarganya.
Bagaimana pun tarbiyah itu salah satu sarana untuk menjaga diri. Kita hidup di lingkungan yang sudah “terpolusi”, terpolusi nilai, budaya, pemikiran, dan sebagainya. Proses tarbiyah itulah yang paling tidak menjaga diri kita dan mengajarkan kita bagaimana menyikapi keadaan yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang kita yakini. Untuk menghadapi godaan-godaan itu kita mengenal muraqabatullah, merasakan pengawasan dari Allah SWT. Dengan tarbiyah kita mengenal cara membentengi diri. Kalau proses tarbiyah itu lepas atau putus, bisa jadi seseorang tidak mampu menghadapi godaan-godaan yang ada.

Setiap orang pasti pernah mengalami futur , termasuk saya. Itu bagian dari proses naik-turunnya keimanan seseorang. Iman naik ketika dia taat pada Allah dan iman turun ketika seseorang bermaksiat.
Setiap Muslim juga harus punya amalan-amalan minimal yang tidak boleh lepas. Misalnya saya, ketika menghadapi suasana dimana kondisi keimanan turun, saya tidak boleh meninggalkan amalan-amalan wajib. Karena di situlah titik terakhir kita agar tidak bermaksiat kepada Allah. Tentunya juga dengan banyak mengingat janji-janji Allah ketika kita dalam ketaatan, keimanan, dan kebaikan. Kita juga harus mengingat akibat-akibatnya, jangan sampai kita terjebak dalam futur yang berkepanjangan. Cara yang lain adalah dengan membaca biografi orang-orang besar, seperti para sahabat dan ulama.

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan seseorang. Seperti kata Rasulullah, kalau kita bergaul dengan tukang minyak wangi kita akan mendapat wanginya, kalau kita bergaul dengan pandai besi kita akan dapat debunya. Anak muda yang sudah mengenal tarbiyah atau sedang dalam proses tarbiyah, ketika dihadapkan pada cobaan, misalnya cobaan dari orangtua, jangan sampai menganggap orangtua itu musuh dakwah. Orang tua juga objek dakwah, orang tua juga pendukung kita, maka perlu kita kenalkan dengan nilai-nilai kebenaran. Jangan sampai kita jadi aktivis dakwah, atau aktivis rohis, aktif di lembaga dakwah kampus, terkenal di mana-mana, tapi di keluarga sendiri, di kampung sendiri, tidak dikenal. Atau, malah dianggap memusuhi lingkungannya sendiri.

Tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bisa bermula dari tarbiyah. Meskipun tidak menjadi jaminan bahwa dengan tarbiyah seseorang akan masuk surga, insya Allah dengan tarbiyah kita akan mengenal jalan menuju ke sana, jalan menuju kebaikan Allah SWT

*Dikutip dari wawancara di majalah annida no.9-XVII/annida-online.com