Sunday, February 21, 2016

Semangat Membaca Al-Quran

قال ابن قدامة: ويُكره أن يؤخر ختمة القرآن أكثر من أربعين يومًا

Ibnu Qudamah: “Dimakruhkan mengkhatamkan Al-Quran lebih dari 40 hari.”


“قال القرطبي: “والأربعين مدة الضعفاء وأولي الأشغال

Al-Qurtubi: “40 hari adalah durasi orang dhuafa (lemah) dan orang-orang sibuk.”


من بركة القرآن أن الله يبارك في عقل قارئه وحافظه

(فعن عبد الملك بن عمير : (كان يقال أن أبْقَى الناس عقولا قُرَّاء القرآن

Di antara keberkahan Al-Quran Allah memberkahi akal pembaca dan penghafal Al-Quran.
Abdul Malik ibn Umair berkata: (Dahulu dikatakan bahwa manusia yang paling kekal akalnya adalah para pembaca Al-Quran).

“وفي رواية: “أنْقَّى الناس عقولا قُرَّاء القرآن

Riwayat lain darinya: “yang paling jernih akalnya.”


“وقال القرطبي: “من قرأ القرآن مُتّع بعقله وإن بلغ مئة

Al-Qurtubi berkata: “Sesiapa membaca Al-Quran akan terawat akalnya meski berusia 100 tahun.”


قال أبو الزناد: كنت أخرج من السَّحَر إلى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا أمر ببيت إلا وفيه قارئ

Abu Zinad berkata: Aku berjalan ke masjid nabawi, tidaklah aku melewati rumah kecuali ada seorang pembaca Al-Quran.


قال شيخ الإسلام: ما رأيت شيئا يُغَذِّي العقل والروح ويحفظ الجسم ويضمن السعادة أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى


Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata: “Aku melihat tak ada apapun yang dapat memberi asupan akal dan ruh, menjaga fisik, menjamin kebahagian selain dari men-dawam-kan (terus menerus) membaca kitab Allah.”

Terikatlah pada Al-Quran,niscaya kau dapati keberkahan.

Sumber: https://telegram.me/amshehri
Penerjemah: Faris Jihady

Muslim Menghadapi Musim Dingin

Oleh: Faris Jihady, Lc

Masyarakat Dunia saat ini umumnya menghadapi perubahan cuaca yang cukup ekstrim, sebagian besar kita sudah melewati perpindahan musim dari musim panas ke musim dingin, khususnya di negara-negara non-tropis di sebelah utara khatulistiwa.

Perubahan musim tak mengecualikan kaum Muslimin sebagai salah satu entitas terbesar ummat manusia yang secara rutin melewati musim ini, khususnya pada penghujung tahun dan masuknya awal tahun berikutnya. Perubahan musim berefek pada fisik, mental sekaligus pola hidup manusia.

Seorang muslim menghadap perubahan musim khususnya memasuki cuaca yang dingin lagi ekstrim tentu saja memiliki kekhasan dan karakter tersendiri yang menunjukkan kualitas pribadi sebagai muslim.

Ada beberapa hal yang patut menjadi tadzkirah (peringatan) dan renungan saat kita memasuki musim dingin

Petunjuk Nabi Dalam Ibadah Qurban

Oleh: Faris Jihady, Lc

عَنْ أَنَس بن مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: “ضَحَّى النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik ra, ia berkata; “Rasulullah saw berqurban dengan dua domba berwarna campuran hitam dan putih, kemudian menyembelihnya dengan tangannya sendiri, menyebut nama Allah, bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher keduanya”. (Hadits Shahih, diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Daud, AnNasa’i, Ibn Majah, At-Tirmidzi dll).

Beberapa pelajaran hadits:

1.    Anas ibn Malik –sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut- mendeskripsikan hewan yang dijadikan kurban oleh Rasulullah saw dengan dua deskripsi:
–    كبش Kabsy, yaitu domba (jenis kambing dengan bulu lebat) yang melewati satu tahun
–    أملح Amlah, yaitu yang warna bulunya putih dominan bercampur dengan hitam, demikian mayoritas ahli bahasa mendefinisikannya
–    اقرن Aqran, yaitu memiliki dua tanduk yang bagus

2.    Mengapa Rasulullah saw memilih hewan kurban dengan deskrips di atas? Al-Mawardi dan ArRafi’i –dua ulama besar mazhab Syafi’i- mengatakan; karena dua hal; tampilan luarnya bagus, dan kualitas dagingnya baik.

3.    Dari deskripsi hadits di atas, dapat disimpulkan beberapa hukum terkait dengan ibadah qurban dan tatacaranya;

a.    Pada dasarnya, hukum ibadah udhiyah / kurban adalah sunnah muakkadah, demikian mazhab Imam AsSyafi’i dan pengikutnya, itu juga adalah pendapat Imam Ahmad, Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan –keduanya murid Abu Hanifah-. Adapun Imam Abu Hanifah mewajibkannya bagi orang yang mukim (bukan musafir).

b.    Disunnahkan dalam ibadah kurban untuk mendahulukan jenis domba/kambing sebelum unta, ini adalah pendapat ulama Malikiyah dan Syaf’iyyah, kecuali dalam ibadah hadyu (hewan yang disembelih pada saat haji di tanah haram), maka didahulukan jenis unta.

c.    Disunnahkan jumlah hewan kurban lebih dari satu, karena Rasulullah berkurban dengan dua domba. Karena itu, ulama Syafi’iyyah mengatakan; 7 ekor kambing/domba lebih baik daripada seekor unta, karena darah yang ditumpahkan lebih banyak, dan nilai taqarrub-nya lebih bertambah sesuai dengan yang ditumpahkan.

d.    Disunnahkan berkurban dengan hewan yang bertanduk, meskipun yang tidak bertanduk juga diperbolehkan

e.   Disunnahkan memilih hewan dengan tampilan dan kualitas terbaik, karena Rasulullah saw telah memilih dengan pilihan yang baik, sesuai dengan deskripsi dalam hadits tersebut.

f.    Disunnahkan bagi pemilik hewan kurban untuk menyembelih dengan tangannya sendiri, namun jika tidak bisa, maka diperbolehkan untuk mewakilkan dan dianjurkan untuk ikut menyaksikan penyembelihan

g.    Disyari’atkannya menyebut nama Allah dalam penyembelihan dan bertakbir; Bismillah, Allahu Akbar

h.   Dalam penyembelihan, dianjurkan membaringkan hewan pada sisi kirinya, kemudian penyembelih meletakkan kaki di atas sisi kanan. Apa pasal? Karena ini lebih memudahkan bagi penyembelih dalam memegang pisau dan mencengkram kepala hewan.

Wallahu a’lam.

*diringkas dari kitab Al-I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam, Imam Ibn Al-Mulaqqin AsSyafi’i

Tadabbur Surah Al-Qadr

Oleh : As Syahid Sayyid Qutb* 

Alih Bahasa : Faris Jihady, Lc

Malam Lailatul Qadr, adalah malam ketersambungan mutlak antara dunia dengan langit, momen bermulanya penyampaian AlQur’an ke hati nabi Muhammad saw, momen yang penuh keagungan yang belum pernah dialami sebelumnya dalam sejarah kehidupan manusia. Momen yang sangat agung, agung dalam kandungan dan jejak pengaruhnya dalam kehidupan manusia seluruhnya.

Nash-nash Al-Qur’an yang menyebutkan peristiwa agung ini begitu bercahaya dan penuh dengan pencerahan dengan cahaya Allah yang benderang, seiring dengan cahaya malaikat dan Jibril yang berpendaran sepanjang malam dalam ruang antara langit dan bumi.

Malam Lailatul Qadr yang dibicarakan surat ini adalah malam yang sama sebagaimana disebutkan dalam Surat AdDukhan (3-5); “sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam yang diberkahi, sungguh Kamilah yang memberi peringatan, pada malam itu ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan dari sisi Kami”.

Menyelami Rahasia “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”

Oleh: Faris Jihady, Lc

Dua kata ini “ibadah” dan “isti’anah“, adalah poros dari segala hal. Keduanya adalah rahasia dari penciptaan dan perintah, hikmah dari diturunkannya kitab-kitab dan ditetapkannya syariat, diaturnya pahala dan dosa. Keduanya adalah sentral dari ‘ubudiyah (penghambaan) dan Tauhid (pengesaan).

Konon dikatakan, Allah telah menurunkan sejumlah 104 buah kitab, semua maknanya dihimpun dalam Taurat, Injil, dan AlQur’an. Kemudian semua makna ketiga kitab ini dirangkum dalam AlQur’an, lalu seluruh makna AlQur’an diringkas dalam AlMufasshal (Surat dengan ayat-ayat pendek), kemudian makna keseluruhan Al-Mufasshal dipadatkan dalam Al-Fatihah, dan keseluruhan makna Al-Fatihah disimpulkan dalam إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.
Dua kalimat inilah yang membagi dua antara Rabb dengan hambaNya; “IyyaKa Na’budu” adalah untukNya, dan “iyyaKa nasta’in” adalah untuk hambaNya.

Tuesday, April 7, 2015

Al-Qur’an dan Kelompok Syiah

Oleh: Faris Jihady, Lc
Terpecahnya pemahaman keagamaan kaum Muslimin sejak awal sejarah Islam merupakan ‎keniscayaan dan sunnatullah (kehendak Allah) yang bersifat takdir, sebagaimana diisyaratkan ‎dalam berbagai nash (teks) AlQur’an dan Hadits.‎
Terpecahnya pemahaman keagamaan ini bukan tanpa hikmah, ia merupakan ujian ‎keimanan bagi setiap muslim dalam konsistensi dan komitmen mereka ‎bepegang teguh pada Islam sebagaimana ia diwahyukan, karena pemegang teguh ajaran di era ‎ramainya terjadi penyimpangan, sebagaimana kata Nabi, bagaikan penggenggam batu bara.‎

Tuesday, January 6, 2015

ISLAM MEMANDANG MUSIBAH

Faris Jihady, Lc

Merealisasikan ibadah kepada Allah Ta’ala adalah tujuan akhir dari kehidupan. Siapa yang dapat ‎mencapainya dengan sempurna dia-lah yang pemilik predikat terbaik, taqwa.‎

Dalam mencapai predikat terbaiknya, manusia dalam hidupnya diatur oleh Sunnatullah (hukum-‎hukum Allah yang berlaku di alam semesta), dan di antara sunnatullah yang merupakan ‎kemestian dan keniscayaan adalah “hidup adalah ujian dan cobaan”.‎

Secara riil kehidupan manusia di beberapa waktu terakhir ini –medio 2014- dikejutkan oleh ‎berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan, bahkan menyedihkan, mengejutkan, dan membuat ‎kehilangan.‎

Peristiwa-peristiwa tersebut sebagian terjadi secara kolektif, massif dan terekam oleh memori ‎masyarakat. Hal ini tentu saja memukul kesadaran dan kejiwaan manusia, meskipun ia bukan ‎menjadi bagian dari korban peristiwa-peristiwa tersebut.‎

Rentetan peristiwa tersebut sudah seharusnya mengajak akal dan hati manusia muslim secara ‎sadar untuk berpulang pada panduan Islam memandang kehidupan dan musibah. Kehidupan dan ‎musibah,  dua kata yang tidak terpisahkan, bagaikan dua sisi mata uang.‎